Main menu

Prosedur Pengangkutan Hewan Melalui Udara Pengiriman Mekanisme dan Persyaratan serta Pengawasan Pelaksanaan

Pengangkutan Hewan Melalui Udara adalah Dalam penyelenggaraan kegiatan pengangkutan hewan agar dapat berjalan dengan lancar dan dapat mencapai tujuan dengan selamat maka diperlukan suatu sistem pengaturan yang terdiri dari peraturan perundang-undangan. Peraturan perundang-undangan ini dapat berupa peraturan internasional maupun peraturan nasional.
Berikut Dasar Hukum Secara Internasional Mengenai Pengangkutan Hewan Melalui Udara
1.    The IATA Live Animal Regulations (LAR)
Menyebutkan peraturan umum untuk pengangkutan hewan lewat udara. LAR menetapkan tipe kontainer yang digunakan dan prosedur penanganan yang harus diikuti untuk spesies individual hewan.  Perhatian  khusus diberikan untuk kenyamanan hewan, keamanan dari staff yang menangani hewan dan pencegahan kerusakan pesawat.
2.The Washington Convention on International Trade in Endanger Species  of Wild Fauna and    Flora (CITES):
Peraturan ini berisi aturan mengenai pembatasan impor atau ekspor spesies hewan yang akan punah.
Peraturan nasional yang mengatur pengangkutan hewan melalui udara adalah sebagai berikut:
1.    Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.
Setiap hewan, ikan, dan tumbuhan yang akan diangkut dari suatu area ke area lain harus melewati suatu prosedur yang dinamakan karantina. Di dalam Undang-Undang ini dijelakan mengenai persyaratan karantina hingga tindakan karantina apa yang akan dilewati bagi hewan, ikan, dan tumbuhan yang akan diangkut.
2.    Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.
Hewan masuk kategori barang khusus yaitu barang yang karena sifat, jenis, dan ukurannya memerlukan penanganan khusus sehingga pengangkutan hewan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan diatur pada pasal 136, 137, 138 dan 139.
3.    Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang  Karantina Hewan.
Peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan terkhusus pada pelaksanaan karantina hewan. Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur mengenai persyaratan bagi karantina hewan baik itu di dalam negeri maupun luar negeri (ekspor-impor) hingga prosedur karantina hewan itu sendiri.
4.    Peraturan Menteri Perhubungan No. 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara Jo. Peraturan Menteri  Perhubungan No. PM 92 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara.
Peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Dalam peraturan pemerintah ini dijelaskan mengenai tanggung jawab pengangkut dalam hal ganti kerugian terhadap penumpang, bagasi maupun kargo. Seperti yang kita ketahui pengangkutan hewan sebagai kargo.
5.    Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor: KP. 152  Tahun 2012 Tentang Pengamanan Kargo dan Pos yang Diangkut dengan Pesawat Udara
Setiap hewan yang akan dibawa atau dikirim dari suatu area ke area yang lain dikenakan tindakan karantina berupa:
1.    Pemeriksaan. Tindakan pemeriksaan dimaksudkan untuk    mengetahui kelengkapan dan kebenaran isi dokumen serta untuk mendeteksi hama dan penyakit hewan karantina atau organisme pengganggu tumbuhan karantina. Pemeriksaan terhadap hewan, bahan asal hewan, hasil bahan asal hewan dapat dilakukan koordinasi dengan instansi lain yang bertanggung jawab di bidang penyakit karantina yang membahayakan kesehatan manusia.
2.    Pengasingan dan Pengamatan. Pengasingan dan Pengamatan dimaksudkan untuk mendeteksi lebih lanjut terhadap hama dan penyakit hewan karantina atau organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu yang karena sifatnya memerlukan waktu lama,  sarana dan kondisi khusus.
3.    Perlakuan. Perlakuan dimaksudkan untuk menyucihamakan media pembawa hama dan penyakit hewan karantina atau organisme pengganggu tumbuhan karantina. Perlakuan diberikan terhadap media pembawa apabila setelah dilakukan pemeriksaan atau pengasingan untuk diadakan pengamatan ternyata media pembawa tersebut
•    Tertular atau diduga tertular hama dan penyakit hewan karantina; atau
•    Tidak bebas atau diduga tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina.
4.    Penahanan. Penahanan dilakukan apabila setelah  dilakukan pemeriksaan terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina atau organisme pengganggu tumbuhan karantina ternyata persyaratan karantina atau pemasukan ke dalam tau dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia belum seluruhnya dipenuhi.
5.    Penolakan. Penolakan dilakukan terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan atau organisme pengganggu tumbuhan karantina   yang dimasukkan kedalam atau dimasukkan dari suatu araea kearea lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia apabila ternyata
•    Setelah dilakukan pemeriksaan diatas alat angkut, tertular hama dan penyakit hewan karantina atau tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina yang ditetapkan oleh Pemerintah, atau busuk, atau rusak, atau merupakan jenis-jenis yang dilarang pemasukannya; atau
•    Persyaratan karantina seluruhnya tidak dipenuhi; atau
•    Setelah dilakukan penahanan keseluruhan persyaratan yang harus dilengkapi dalam batas waktu yang ditetapkan tidak dapat dipenuhi; atau
•    Setelah diberi perlakuan diatas alat angkut, tidak dapat disembuhkan dan/atau disucihamakan dari hama dan penyakit hewan karantina atau tidak dapat dibebaskan dari organisme pengganggu tumbuhan karantina.
6.    Pemusnahan. Pemusnahan dapat dilakukan terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukan ke dalam atau dimasukkan dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Repbulik Indonesia ternyata
•    Setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat angkut dan dilakukan pemeriksan, tertular hama dan penyakit hewan karantina atau   organisme   pengganggu   tumbuhan   karantina   tertentu  yang ditetapkan oleh pemerintah, atau busuk, atau rusak, atau merupakan jenis-jenis yang dilarang pemasukannya; atau
•    Setelah dilakukan penolakan media pembawa yang bersangkutan tidak segera dibawa keluar dari wilayah Negara Republik Indonesia atau dari area tujuan oleh pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan; atau
•    Setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan, tertular hama dan penyakit hewan karantina atau tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu yang ditatapkan oleh pemerintah; atau
•    Setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat angkut dan diberi perlakuan, tidak dapat disembuhkan dan/atau disucihamakan dari hama dan penyakit hewan karantina atau tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina.
7.    Pembebasan. Pembebasan dilakukan terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karatina atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukkan ke dalam atau dimasukkan dri suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia ternyata
•    Setelah dilakukan pemeriksaan tidak tertular hama dan penyakit hewan karantina atau bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina; atau
•    Setelah dilakukan pengamatan dan pengasingan tidak tertular hama dan penyakit hewan karantina atau bebas dari organisme  pengganggu tumbuhan karantina; atau
•    Setelah dilakukan perlakuan dapat disembuhkan dari hama dan penyakit hewan karantina atau dapat dibebaskan dari organisme pengganggu tumbuhan karantinal; atau setelah dilakukan penahanan seluruh persyaratan yang diwajibkan telah dapat dipenuhi.
Secara umum setiap hewan yang akan dimasukan atau dikeluarkan ke atau dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia dilengkapi sertifikasi kesehatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang dari negara atau daerah asal dan negara atau daerah transit; dilengkapi surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi hewan yang tergolong benda lain; melalui tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan; dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina hewan     di tempat pemasukan atau tempat pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina.

Untuk melaksanakan tindakan karantina hewan antar area, berikut adalah prosedur yang harus dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait:
1.    Pemilik media pembawa hama dan penyakit hewan atau kuasanya menyampaikan laporan rencana realisasi kepada petugas karantina hewan di bandara dengan mengisi formulir kepada petugas karantina hewan   memlalui   counter   yang   tersedia   2   (dua)   hari     sebelum pemasukan/pengeluaran dengan melampirkan dokumen yaitu sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh dokter hewan karantina dari tempat pengeluaran dan tempat transit dan surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi media pembawa yang tergolong benda lain.
2.    Petugas counter membukukukan laporan pemasukan/pengeluaran ke dalam buku agenda dilanjutkan dengan pemeriksaan kelengkapan, kebenaran dan keabsahan dokumen persyaratan oleh Petugas Karantina Hewan.
3.    Laporan pengeluaran hewan tersebut akan diproses lebih lanjut setelah dokumen persyaratan dilengkapi. Apabila dokumen persyaratan tidak dapat dilengkapi dalam waktu 14 hari, maka terhadap media pembawa tersebut akan dilakukan penolakan untuk dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain dan kepada pemilik komoditas atau kuasanya akan diberikan Surat Berita Acara Penolakan. Apabila semua dokumen persyaratan telah dilengkapi, maka terhadap komoditas yang akan dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain dilakukan pemeriksaan fisik/kesehatan dilapangan oleh petugas karantina hewan dengan menunjukkan Surat Penugasan.
4.    Jika dalam pemeriksaan media pembawa tidak ditemukan hama dan penyakit hewan atau dalam perlakuan hewan dapat disembuhkan atau disucihamakan, maka terhadap hewan tersebut dilakukan pembebasan dan kepada pemilik/kuasanya akan diberikan Sertifikat Pelepasan Karantina.
5.    Bendaharawan penerima memungut biaya jasa karantina tumbuhan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan menyerahkan lembar asli Sertifikat Pelepasan Karantina kepada pemilik media atau kuasanya.
1.    Kesehatan dan kondisi hewan hidup tersebut.
Hanya hewan yang terlihat sehat dan dalam kondisi yang fit dapat melakukan perjalanan ke tempat tujuan dengan menggunakan jasa angkutan udara. Shipper harus menginformasikan apabila hewan dalam keadaan hamil atau baru melahirkan dalam waktu 48 jam sebelum perjalanan. Mamalia yang dalam keadaan hamil tidak dapat diterima untuk pengiriman, kecuali dilengkapi surat jaminan kesehatan dari dokter hewan untuk menghindari resiko melahirkan selama dalam perjalanan.
2.    Packing and Marking
Pengemasan untuk binatang harus bersih bebas dari kebocoran dan kontainer untuk hewan harus dijamin, dapat mencegah binatang  tersebut lolos dari kontainer tempat pengiriman. Pengirim berkewajiban untuk menempelkan label yang jelas dan tahan lama berisikan nama pengirim, alamat, dan sebagainya seperti yang tertera dalam surat muatan udara, disetiap kemasan barang kiriman. Kemudian, kontainer tempat binatang harus diberi tanda khusus untuk live animal berupa  tag “LIVE ANIMAL” di setiap kontainer. Kontainer tempat pengiriman hewan yang dapat menimbulkan bahaya karena gigitan atau sengatan berbisa harus diberi tanda “POISONOUS”.
3.    Food and Other Additional Articles
Makanan yang diperlukan oleh binatang selama perjalanan harus termasuk perhitungan chargeable weight. Apabila makanan tersebut dikirimkan sebagai kiriman terpisah, harus diberi tanda pada kemasannya.
4.    Reservation
Harus ada kepastian dari reservasi yang dilakukan mengenai  keberadaan ruang di pesawat, kemungkinan connecting flight dan kepastian keberangkatan ke stasiun tujuan.
5.    Consolidation
Hewan tidak boleh dijadikan consol cargo dengan kargo lain selain hewan. Kalau dijadikan consol dengan hewan, harus mengacu kepada IATA Live Animal Regulations.
6.    Documents
Dokumen kesehatan dan sertifikat suntikan rabies harus disertakan dalam pengangkutan hewan melalui udara.
•    Live tropical fish and other marine/river products
Pengiriman live fish, live tropical fish, dan marine products (coral, rumput laut, dan lain-lain) harus mengandung air berkandungan garam yang cukup agar live animal dapat hidup selama   pengiriman.
Namun, kandungan air garam yang terlalu banyak dapat berisiko menyebabkan korosi pada komponen pesawat.
•    Live reptiles, small mammals
Live reptiles (snakes, lizards, turtles, etc) and small animals (mice squirrels, rodents, bats, birds, etc) adalah jenis live animal yang sering dikirim melalui pengangkutan udara. Kontainer untuk live animal seperti ini harus menjamin agar live animal harus menjamin agar live animal tidak dapat lolos melalui celah-celah kecil yang ada di kontainer karena gigitan atau cakarannya dapat merusak komponen kabel di pesawat yang dapat mebahayakan penerbangan.
•    Storage (Penyimpangan) Ibid, hal. 134.

  •     Kontainer yang digunakan harus aman secara terstruktur saat dimuat dalam pesawat untuk mencegah bergesernya kemasan atau kandang hewan ini yang dapat merusak pesawat.

Kontainer hewan-hewan jangan pernah diletakkan terbalik harus dilengkapi sticker untuk peletakan posisi.

  •    Lantai konrainer hewan harus dialasi serpihan kayu atau serbuk gergaji kayu.
  •     Hewan yang menunggu jadwal keberangkatan harus ditangani di tempat yang bersih, kering, serta bebas dari tumpukan barang dan temperatur yang sesuai dengan kondisi hewan tersebut harus dijaga.

    Untuk melindungi hewan dari angin atau temperatur udara yang  ekstrim, kandang atau kemasan hewan harus selalu ditutup atau terlinduung sementara. Hal seperti ini untuk melindungi hewan agar tidak mati atau lemas.

  •     Jauhi dari kiriman radio active.
  •     Mengikuti instruksi pengirim.
  •     Hewan yang bersala dari spesies yang berbeda sebaiknya jangan diletakkan berdekatan.
  •     Hewan-hewan ini harus dimuat atau dibongkar sedekat mungkin  dengan pesawat.

•    Stowage in aircraft of live animals (pemuatan hewan hidup di pesawat)

  •     Kontainer hewan diikat untuk menghindari bergeser saat tinggal landas, mendarat ataupun selama penerbangan berlangsung.
  •     Penyusunan harus dibuat sedemikian rupa agar hewan ini dapat di turunkan sesegera mungkin jika tiba di bandara tujuan.
  •     Kontainer atau kandang hewan ini harus ditaruh ditempat yang cukup lapang agar terdapat sirkulasi udara yang cukup.
  •     Tergantung bagaimana kualitas kandang, penanganan harus tetap ekstra hati-hati.
  •     Jika terjadi keterlambatan penerbabangan maka harus ditangani sesuai insrtuksi pengirim.
  •     Hewan ditaruh sedemikian rupa jika pada penerbangan transit.
  •     Kontainer atau kandang tidak boleh ditaruh di bawah ventilasi udara pesawat atau di bawah cahaya lampu.
  •     Hewan yang bermusuhan secara alam harus ditaruh berjauhan
  •     Jauhkan hewan yang berlainan jenis kelamin.
  •     Hewan-hewan harus dijauhkan dari cairan kimia atau bahan kimia

Pengawasan Pelaksanaan Pengangkutan Hewan Melalui Udara
Menurut Robert J. Mockler pengawasan yaitu usaha sistematik  menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar, menentukan dan mengukur deviasi-deviasai dan mengambil tindakan koreksi  yang menjamin bahwa semua sumber daya yang dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien.

Agar penyelenggaraan pengangkutan hewan melalui udara ini dapat berjalan dengan lancar maka diperlukan suatu tindakan pengawasan dari pihak- pihak yang mempunyai keterkaitan dengan pelaksanaan pengangkutan ini. Pengawasan ini ada agar dapat diketahui bahwa proses pengangkutan hewan ini berjalan sesuai dengan rencana atau tidak. Seperti kita ketahui dalam pengangkutan hewan terdapat serangkaian prosedur yang harus dilaksanakan, maka dengan adanya pengawasan ini maka tidak ada prosedur yang terlewatkan.

Pihak-pihak itu seperti Dinas Peternakan atau Dinas Pertanian. Setiap hewan  yang  akan  diangkut harus  mengantongi  izin  administratif  berupa Surat

Keterangan Kesehatan Hewan atau vaksinasi yang dikeluarkan oleh Dinas Peternakan atau Dinas Pertanian di daerah asal hewan tersebut. Sehingga secara tidak langsung Dinas Peternakan atau Dinas Pertanian memegang peranan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengangkutan hewan jika nantinya ternyata hewan tersebut tidak sehat padahal sudah diterbitkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan dari hewan tersebut.

Selanjutnya adalah pihak Balai Karantina Pertanian yang menangani  proses karantina hewan. Proses karantina ini harus dijalani oleh setiap hewan yang akan diangkut dari suatu area ke area lain di dalam suatu negara.Karantina bertujuan untuk melindungi suatu negara dari penyakit yang belum ada (atau sudah ada). Kalau penyakit sudah ada, pemerintah harus berusaha mengurangi penyebabnya. Namun juka penyakit tersebut belum ada, pemerintah berusaha mencegah penyakit tersebut agar tidak masuk. Balai Karantinan Pertanian ini nantinya akan mengeluarkan Surat Sertifikasi atas hewan yang diangkut tersebut yang merupakan salah satu persyaratan dalam pelaksanaan pengangkutan hewan.

Pihak ground handling. Suatu perusahaan yang memberikan penanganan terhadap para penumpang berikut bagasinya, kargo, pos, peralatan pembantu pergerakan pesawat di darat dan pesawat terbang itu sendiri selama berada di bandar udara, baik untuk keberangkatan maunpun untuk kedatangan. Salah satu unit kerja utama dalam groundhandling adalah cargo handling. Groundhandling bertugas mulai dari penerimaan kargo hewan, pemeriksaan kelengkapan surat- surat, penempatan di gudang kargo, hingga penempatan di pesawat udara.

Pihak maskapai penerbangan. Pihak ini yang menyelenggarakan pengangkutan atau disebut sebagai pengangkut. Sehingga peran pengawasan sudah semestinya dimiliki oleh pihak maskapai penerbangan agar  penyelenggaraan pengangkutan hewan berjalan lancar

Mekanisme dan Persyaratan Pengangkutan Hewan Melalui Udara
Ada tiga pihak utama yang terkait dengan pengiriman kargo, yaitu :
a. Pihak pengirim ( shipper ) : Shipper bisa berupa perorangan, badan usaha, dilakukan secara
langsung tanpa perantara, atau melalui jasa freight forwarder
b. Pihak pengangkut ( carrier ) : Carrier bisa berupa cargo sales airline, cargo sales
agent, airline / air charter yang juga berfungsi sebagai pengangkut kargo.
c. Pihak penerima ( consignee ) : Consignee bisa berupa perorangan, badan usaha
maupun dalam bentuk cargo agent.
4. Standard Operation Prosedure (SOP) : Warehousing Aktivities
a. Aktifitas Inbound
Pada gudang inbound ada beberapa unit yang terkait dengan penanganan kargo, seperti
unit acceptance, document processing, storage, dan break down area. Pada prinsipnya penerimaan
dan pengiriman kargo ada dua hal yaitu dokumen dan kargo.
ACCEPTANCE (Inbound) AREA
Acceptance di gudang impor adalah unit yang bertugas melakukan verifikasi dokumen
sebelum menjalani proses lebih lanjut. Tata cara acceptance cargo dengan terlebih dahulu memilah
dokumen dan selanjutnya didistribusikan ke unit storage, cargo delivery, rush handling,
transfer/transit, bea cukai, dan karantina, kantor pos tukar bandara setempat ataupun warehouse
operator lain untuk proses over bringen (OB)
Memeriksa data pada MAWB antara lain :
• (1) Special Handling Information
• (2) Commodity
• (3) Sistem Pembayaran (collect atau prepaid)
• (4) Tujuan akhir pengiriman
• (5) Nama dan alamat consignee

BREAK DOWN AREA
Break down area adalah tempat kargo dibongkar atau diturunkan dari ULD. Pelaksanaan
breakdown adalah sebagai berikut:
1. Petugas mendapatkan break down plan dari petugas acceptance
2. Petugas akan memeriksa kondisi ULD secara saksama sebelum kargo diturunkan.
3. Pada saat kargo dibongkar, petugas akan mencatat :
Kondisi ULD
Nomor ULD
Kondisi segel
Nomor MAWB dan jumlahnya per ULD
Nomor HAWB dan jumlahnya per ULD
Jenis, warna, dan cirri kemasan
4. Apabila ada special cargo, petugas akan segera mengalokasikannya sesuai dengan jenis
kargonya, kecuali ada permintaan sendiri dari pemilik kargo.
5. Apabila ada kargo angkut lanjut, petugas akan segera menyiapkan kargo dan dokumennya
untuk diproses lebih lanjut.
6. Petugas menyerahkan hasil breakdown ke petugas storage untuk ditempatkan.
7. Setelah selesai, petugas akan mengirimkan hasil break down ke unit-unit terkait lainnya
melalui telex dan atau email.

STORAGE
Seperti telah dibahas sebelumnya, mekanisme storage harus mengikuti seperti yang tercantum
dalam AHM 330. Storage import terbagi menjadi beberapa area seperti be handle area, over flow
area, dan area-area lain untuk special cargo.
Adapun proses storage dapat dideskripsikan sebagai berikut :
1. Petugas menerima kargo yang telah selesai proses break down
2. Petugas mendapatkan cargo dalam area storage sesuai dengan lokasi yang telah
ditetapkan. Pengelompokkan kargo dalam storage bisa didasarkan atas beberapa hal,
antara lain jenis kargo, nomor airwaybill, jenis komoditas, ukuran atau beratnya.
3. Petugas juga harus menyiapkan kargo yang akan diserahkan kepada consignee.
4. Petugas melaksanakan stock opname tiap hari.

CARGO DELIVERY
Cargo delivery adalah unit yang berhubungan langsung dengan consignee, freight forwarder, atau
PPJK (Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan). Pekerjaan unit ini dapat dideskripsikan sebagai
berikut :
1. Petugas menerima dokumen yang telah diproses oleh unit acceptance.
2. Petugas melakukan Notice of Arrival (NOA) melalui telepon, fax, atau email.
3. Pada saat consignee/freight forwarder/PPJK datang, petugas akan meminta kartu
identitas (KTP,passport,SIM, dan lain-lain) baru setelah itu dokumen asli diserahkan
untuk diproses lebih lanjut.
4. Apabila kewajiban kepabeanan dan sewa gudang telah selesai diakukan, petugas akan
mengeluarkan surat/form yang menyatakan bahwa kargo sudah boleh dibawa keluar
gudang.
Ø Prasarana yang terdapat di gudang untuk menunjang kelancaran petugas, yaitu :
a) Strong room
• Merupakan tempat atau fasilitas penyimpanan barang-barang berharga.
b) AC room
• Merupakan lokasi atau ruangan penyimpanan barang atau kargo yang mempunyai
temperature suhu dari 150C sampai dengan 250C.
c) Cool room
• Merupakan tempat atau fasilitas penyimpanan barang atau kargo yang mempunyai
Temperature suhu dari 20Csampai dengan 80C.
d) Cold Storage
• Merupakan tempat atau fasilitas penyimpanan barang atau kargo yang mempunyai
Temperature suhu dari 10 C sampai dengan minus 25 oC.
e) Dangerous goods room
• Merupakan lokasi atau penyimpanan khusus barang atau kargo yang berbahaya
f) Location/Blok (general cargo)
• Merupakan area penyimpanan barang partai/jumlah, berat, dan dimensi yang
besar.
g) Rush handling warehouse
• Gudang yang dipakai untuk menimbun/menyimpan barang yang sifatnya segera
harus diterima/ diberangkatkan atau harus segera diserahkan kepada penerima
barang.

b. Aktifitas Outbound
ACCEPTANCE (Outbond) AREA
Acceptance Area adalah area tempat shipper/freight forwarder melaporkan cargo yang akan
dikirim. Ada dua cara pelaporan :
1. Pelaporan secara lisan.
2. Pelaporan dengan menggunakan Shipper Letter of Instructions.
Informasi yang disampaikan shipper kepada petugas, meliputi :
a. Nama sarana pengangkut dan nomor penerbangan
b. Rencana tanggal keberangkatan
c. Nama dan alamat shipper
d. Nama dan alamat consignee
e. Airport asal
f. Airport tujuan
g. Nomor MAWB
h. Jumlah kargo
i. Berat kargo
j. Dimensi kargo
k. Dan data-data penunjang lain
Petugas acceptance dapat menerima kargo dan pos dari :
1. Shipper
2. Freight forwarder/cargo agent
3. Transfer dari airline lain

D. DOKUMEN ANGKUTAN UDARA
1. Jenis Dokumen dalam Angkutan Udara
Dokumen pendukung dalam penanganan dan pelayanan handling kargo dapat bedakan
menjadi, sebagai berikut :

a. Kargo Domestik
1. Acceptance :
- CBA (cargo booking advice),
- PTI (pemberitahuan tentang isi),
- BTB (bukti timbang barang),
- SMU (surat muatan udara),
- CN 38 (pos), Shipper Declaration for Dangerous Goods, Checklist for Dangerous Goods,
- DB (delivery bill),
- DRSC (untuk kasir)/ Bordrel,
- Pertelaan (untuk kasir).
2. Out Going  :
-  CBA Cargo Booking Advice
- CLP (cargo load plan),
- SMU (surat muatan udara),
- CN 38 (pos), Checklist Buildup,
- MCO (Manifest Cargo Outbond),
- NOTOC (Notification to Captain),
- DO (delivery order) penarikan kargo.
3. Incoming :
- MCI (Manifest Cargo Inbound),
- SMU (surat muatan udara),
- NOA (notice on arrival),
- DO (delivery order),
- DB (delivery bill),
- Surat Jalan,
- DRSC (untuk kasir),
- Pertelaan.

b. Kargo Ekspor
1. Acceptance :
- CBA (cargo booking advice),
- SLI (shipper`s letter of instruction),
- BTB (bukti timbang barang),
- Shipper Declaration for Dangerous Goods,
- Checklist for Dangerous Goods,
- Shipper Certification for LAR,
- AWB (airwaybill),
- CN 38 (pos),
- Payment Voucher,
- CCA,
- DB (delivery bill),
- DRSC (untuk kasir)/ Bordrel,
- Pertelaan (untuk kasir),
- PEB/PEBT (pemberitahian export barang tertentu).

- CBA (cargo booking advice),
- CLP (cargo load plan),
- AWB (airwaybill),
- CN 38 (pos),
- Checklist Build up,
- Build up Report,
- MCO (Manifest Cargo Outbound),
- NOTOC (notification to captain),
- DO (delivery order) penarikan kargo.
3. Transit :
- Manifest inbound dan Manifest outbound,
- AWB (airwaybill),
- CN 38 / AV 7 (pos),
- Checklist Build up,
- NOTOC (notification to captain),
- DO (delivery order).

c. Kargo Impor
1. Acceptance :
- MCI (Manifest Cargo inbound),
- AWB (Airwaybill),
- Checklist break down,
- Overbringen.
2. Document Processing :
- Manifest cargo Inbound,
- AWB (airwaybill),
- NOA (notice on arrival),
- DO (delivery order),
- Pecah PU,
- DB (delivery bill),
- OR (office receive),
- DRSC (untuk kasir), dan
- Pertelaan.
3. Warehouse :
- DO (delivery order),
- Surat Jalan,
- BC 1.2 (untuk Bea & Cukai),
- PIB/PIBT (pemberitahuan impor barang tertentu).
4. Rush Handling :
- Manifest Cargo inbound,
- AWB (airwaybill),
- CN 38/AV-7 (pos),
- DO (delivery order),
- DB (delivery bill),
- Surat Jalan,
- BC 1.2 (untuk Bea & Cukai),
- BC 2.3 (untuk Bea dan Cukai barang pabrik setengah jadi),
- DRSC,
- Pertelaan.
2. Fungsi dan Kegunaan Dokumen
Adalah tanda bukti transaksi tentang pengiriman barang melalui jasa angkutan udara untuk
daerah Domestik antara pihak pengirim dengan pihak airlines operator yang mana masing-masing
pihak sudah mengetahui tentang persyaratn atau ketentuan terhadap barang kiriman termasuk
tanggung jawab dan sanksi masing-masing pihak.
1. AWB/SMU : (Air WyBill/ Surat Muatan Udara)
Harus dibuat sesuai dengan Rule Section 6.2, akurat dan lengkap didalam pengisisan
semua kolom yang ada didalam AWB/SMU tersebut.
Airwaybill atau SMU adalah dokumen non-negotiable yang minimum terdiri dari 8 (delapan)
copy yaitu:
a. Original 3 (yang berwarna biru), yang diberikan kepada shipper dan berguna untuk :
1) Bukti penerimaan barang
2) Bukti tertulis dari perjanjian antara pengangkut dengan si pengirim, bagi
sebuah kontrak pengangkutan.
b. Original 1 ( warna hijau) dan diperuntukan bagi pengangkut dan berguna untuk penyelesaian
accounting, juga sebagai bukti dari Kontrak Pengangkutan.
c. Original 2 (warna pink) yang diberikan kepada consignee (sipenerima barang). Original 2
ini akan menyertai barang kiriman sampai ditempat tujuan, selanjutnya akan diserahkan kepada
Consignee, Sedangkan copy-copy lainnya, adalah copy dari original tersebut, dan sesuai dengan
indikasi yang terdapat dibaris bawah.
d. Original 3 untuk sipengirim
e. Original 1 dipruntukkan bagi carrier
f. Copy no.8 diperuntukkan bagi agent
g. Dokumentasi dari ongkos yang terjadi
h. Dokumentasi dari perubahan atas permintaan shipper (shipper`s right disposition).
Airwaybill atau SMU adalah cargo dokumen yang diterbitkan oleh carrier (pengangkut) atau
agent yang dikuasakannya. Airwaybill atau SMU mempunyai fungsi bermacam – macam yang
penting yaitu :
a. Bukti tertulis dari kesimpulan Contract pengangkutan
b. Bukti dari penerimaan barang kiriman
c. Sebagai bukti penagihan ongkos kirim (jika CCX shippment)
d. Sertifikat asuransi dari barang kiriman
e. Sebagai acuan bagi pengangkut dalam melaksanakan pengiriman dan penyerahan barang
kiriman ditempat tujuan.
Sesuai dengan Convensi Warsawa dan Hague Protocol, dan sesuai dengan syarat
yang tertera dipersyaratan pengangkutan, maka sipengirim (shipper)lah yang akan menyiapkan
penerbitan airwaybill atau SMU. Sipengirim bertanggung jawab atas kebenaran tentang hal
yang berhubungan dengan kiriman barang yang ia tuliskan di airwaybill atau SMU, atau yang
telah dituliskan atas nama pengirim.
Sipengirim akan bertanggung jawab akan hal yang merugikan, atau merusakkan, yang
diakibatkan karena kesalahan, ataupun ketidak benaran, ataupun kekurangan, untuk hal
yang tertulis di airwaybill atau SMU. Meskipun penulisan tersebut tidak dilakukan oleh sipengirim
sendiri, oleh agen yang dikuasakannya, atau orang lain yang dikuasakannya. Dengan ditanda
tanganinya airwaybill atau SMU tersebut, sekaligus sipengirim setuju terhadap segala syarat
pengiriman, yang tercantum dibelakang airwaybill atau SMU sebagai kontrak pengangkutan.
Perkataan Not Negotiable yang tercantum di airwaybill atau SMU berarti bahwa airwaybill
atau SMU tersebut adalah bersifat langsung, dan bersifat non negotiable yang berbeda dengan
Bill of Lading dari pengangkutan laut. Siapapun tidak boleh menerbitkan airwaybill atau SMU
negotiable, sehingga siapapun tidak boleh menghilangkan perkataan “Not Negotiable” dari
airwaybill tersebut.

2. Bukti Timbang Barang (BTB)
Formulir/Dokumen yang dikeluarkan oleh pihak pengangkut/Warehouse Operator,
Sebagai bukti hasil dari penimbangan serta pengukuran dimensi barang/ kargo yang akan dikirim  dan memiliki fungsi sebagai :
1. Keselamatan Penerbangan
2. Perhitungan Tarif
3. Batas Muat Dasaran ( Contact Area )
4. Penentuan Loading/ Unloading Equipment.
3. Pemberitahuan Tentang Isi (PTI)
PTI adalah Formulir yang dipergunakan oleh Shipper/pengirim barang untuk
menginstruksikan kepada pengangkut (Airlines) agar menerbitkan SMU/AWB, setelah dilakukan
proses timbang barang serta dibuatkan BTB.
PTI berfungsi Menyediakan semua perincian data-data yang diperlukan untuk membuat
atau enerbitkan Surat Muatan Udara (SMU).
4. Delivery Bill (DB)
Tanda bukti pembayaran sewa gudang, baik inbound maupun outbound cargo

E. CARGO HANDLING
Cargo Handling adalah suatu rangkaian proses pekerjaan penyelesaian kargo saat mulai
diterima sampai dimuat ke dalam pesawat untuk diangkut dari suatu kota ke kota lain di dalam dan
luar negeri.
- Proses pekerjaan antara lain adalah :
1. Penerimaan (Acceptance).
2. Timbang barang.
3. Pembuatan Dokumen Angkut (Documentation).
4. Build-up / Break-down dari dan pallet/container atau gerobak.
5. Penarikan dari gudang ke pesawat dan sebaliknya.
6.Loading ke pesawat dan unloading dari pesawat.
7. Penyimpanan (storage).
8. Pengiriman (delivery)
Cargo Handling dapat berjalan baik apabila sistem dan prosedur serta sarana dan prasarana
yang dimiliki gudang dan pergudangan di masing–masing stasiun mencukupi dan pelaksanaan
pekerjaan dilakukan dengan benar sesuai operating procedure.
1. Sistem
Untuk pembuatan bukti timbang barang / BTB digunakan program yang di-install dalam
Computer.Manifest Cargo dibuat dengan menggunakan mengisi form yang telah tersedia.
2. Prosedur
Setiap gudang mempunyai acuan kerja yaitu Standard Operation Procedure (SOP); berupa tindakan
yang harus dilaksanakan petugas gudang agar pekerjaan operasional dapat berjalan
lancar.Peraturan mengenai syarat dan tata cara menerima, menyusun barang kiriman ke pallet dan
kontainer serta menarik dan memuat barang ke pesawat secara korporasi terdapat dalam manual
Airlines.Peraturan lainnya terdapat dalam Cargo Information Notice sebelum dibakukan dalam
manual.Pencatatan kegiatan sehari-hari antara shift terutama bila terjadi irregularities dilakukan
dengan mengisi log book.
3. Sarana & Prasarana di Gudang
Sarana dan prasarana yang ada di gudang antara lain Timbangan, Computer, Printer, Ruang kantor,
telepon, Mesin X Ray, Mesin Telex, Fasilitas bergerak, Fasilitas tidak bergerak.

1. Prosedure Handling Kargo Secara Umum
a. Petugas menerima SLI dari shipper atau yang mewakili dan melakukan pemeriksaan terhadap
fisik maupun dokumen untuk meyakinkan bahwa kargo tersebut telah memenuhi persyaratan.
Pemeriksaan meliputi dokumen pelengkap, misalnya Material Safety Data Sheet (MSDS),
Shipper Declaration for Dangerous Goods, Shipper Certification for Live animal, sertifikat
karantina, dan lain-lain. Sementara itu, pada pemeriksaan fisik kargo petugas harus memastikan
bahwa kargo jumlahnya sesuai dengan yang tertera pada label, kemasan dalam kondisi baik,
marking dan label sesuai dengan ketentuan, dan untuk kargo yang disegel, pastikan segel tidak
rusak.
b. Setelah proses pemeriksaan dokumen dan fisik selesai, petugas akan menerbitkan Bukti Timbang
Barang (BTB)
c. Petugas memeriksa bukti pembayaran sewa gudang.
d. Petugas memeriksa Master Airwaybill, apakah nomor sudah sesuai dengan BTB dan bukti
pembayaran sewa gudang, memastikan apakah pengisian MAWB sudah benar dan sama
dengan yang tertera di BTB.
e. Petugas memastikan bahwa cargo telah mendapatkan tanda persetujuan muat dari bea & cukai.
f. Petugas memastikan bahwa kargo telah menjalani proses X-Ray atau pemeriksaan dengan cara
lain, misalnya metal detector, stay 24 jam ataupun pemeriksaan isi kemasan.
g. Petugas mengistruksikan kepada petugas terkait untuk memindahkan cargo ke storage

2. Prosedur Handling Kargo Ekspor Impor
Ada beberapa syarat prosedural yang harus dilakukan baik untuk mengekspor maupun
mengimpor barang. Untuk mengirim barang, hal-hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Bila seseorang ingin mengirim barang/kargo, yang harus dilakukan adalah mendatangi kantor
cargo agent/freight forwarder dengan membawa barangnya. Di sana barang akan ditimbang dan
diperiksa packingnya. Bila memenuhi syarat, maka akan dibuatkan dokumen Air Waybill (untuk
pengiriman dalam negeri dibuatkan surat muatan udara). Biaya pengiriman bisa dibayar di muka
(prepaid) atau di tempat tujuan (collect).
b. Selanjutnya cargo agent atau freight forwarder akan datang ke area pergudangan, khususnya ke
Acceptance Counter untuk memproses kargo tersebut.
c. Dokumen-dokumen pelengkap kargo dibawa ke pabean untuk diperiksa dan disetujui.
Bila nemenuhi syarat, barang siap untuk dikirim.
d. Selanjutnya barang disimpan dan di built up di gudang outbound sampai tiba waktunya untuk
dinaikkan atau dimasukkan ke dalam cargo compartment pesawat.
e. Tahap berikutnya adalah proses pengeluaran barang yang diterima, yaitu setelah barang
diturunkan dari pesawat terbang, barang akan disimpan lebih dahulu di gudang impor dan
gudang rush handling.
f. Si penerima barang akan mendapatkan pemberitahuan tentang adanya barang kiriman (notice of
arrival) berupa surat, email, atau melalui telepon dari petugas di gudang inbound.
g. Consignee dalam hal ini bisa diwakili oleh freight forwarder, datang ke gudang inbound untuk
melakukan proses pengambilan kargo tersebut.
h. Barang digudang impor hanya bisa dikeluarkan setelah diperiksa (dinyatakan clearance) oleh
pihak pabean dan pembayaran pajak dan atau bea masuk atas barang tersebut telah   diselesaikan.

3949 Total Views 12 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

FacebookTwitter