Main menu

Opini kami soal insiden “Salah terminal”

Peristiwa ini terjadi pada 10 Mei 2016 sekitar pukul 19.30 WIB. Saat itu pesawat  yang mengangkut 182 penumpang parkir di remote 51 (internasional).
Penumpang kemudian diangkut menggunakan empat bus. Tiga bus diantar ke Terminal II untuk proses custom immigration quarantine (CIQ). Sedangkan satu bus lain nyelonong ke Terminal I (domestik),
sehingga penumpangnya tidak melewati pemeriksaan Imigrasi untuk distempel paspornya.
dan peristiwa ini juga hampir bersamaan dengan peristiwa yang hampir sama juga dialami salah satu maskapai internasional di Bali.
dalam hal ini penulis bukanlah Aviation Expert yang tentu saja akan dapat memberikan analisa dari berbagai sudut pandang soal insiden tersebut,
namun penulis lebih ingin mengupas untuk mengambil pelajaran tentang sebut saja “Human Factor”. dan berharap setiap pembaca dapat menjadi aware dengan salah satu komponen pendukung keselamatan dan keamanan penerbangan tersebut.

yup 10 tahun terakhir dengan perkembangan transportasi udara yang sangat pesat membuat kegiatan atau aktifitas di area Apron dan Ramp meningkat, pengaturan dan kefahaman tentang regulasi pergerakan pergerakan dia area apron
menjadi wajib di mengerti dan terapkan dalam aktifitas setiap hari, kewaspadaan, konsentrasi menjadi hal hal yang semestinya tidak perlu di ingatkan lagi.
pernahkah kita mengambil keputusan karena tergesa-gesa? mungkin karena jadwal yang sedikit terlambat, atau karena desakan dari suatu pihak,
dalam penerbangan semua sistem diatur untuk zero mistakes. bagaimana diaturnya pegucapan FOR(untuk.ind) dan FOUR(empat.ind), atau tentang Right(kiri.ind) dan Right (Benar.ind), akan tetapi terkadang faktor manusialah juga yang menentukan
terlepas dari sifat alami manusia yang pelupa, tergesa, sakit,dsb. ada hal yang sangat jarang kita perhatikan yaitu soal tekanan kerja.

preasuretekanan kerja seringkali menyeret manusia membuat kesalahan yang dapat memicu kerugian tentu saja jika terjadi di penerbangan. baik itu dalam posisi memberika keputusan atau perintah, maupun pada posisi menerima perintah atau objective.
sangat mungkin untuk perusahaan yang memeiliki manajemen yang baik potensi terjadi kesalahan menjadi lebih kecil, baik itu manajemen waktu, manajemen Human Resource dan lain sebagainya.
maka sangat perlu menurut kami untuk para personil yang terlibat di bidang penerbangan mewaspadai soal tekanan kerja. minimal hal ini dapat di tanamkan pada masing masing diri kita untuk dapat menciptakan suasana kerja yang lebih kondusif dan tentu saja untuk tercapainya service dan safety yang baik.

Zie-wiraangkasa

1186 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

FacebookTwitter