Main menu

Keselamatan Penerbangan RI Semakin Miris Kini Nomor ‘ Terakhir’ di ASEAN, Ini Kata Salah 1 Maskapai Yang Ada Di Indonesia

Organisasi penerbngan dunia memberikan wanti – wanti, kepada para maskapai penerbangan Indonesia,di mana hal tersebut di karenakan, keselamatan penerbangan di Indonesia dinilai masih rendah.

Sehingga hal tersebut berdampak ke bisnis maskapai Indonesia. Banyak orang atau lembaga akan gunakan parameter untuk naik pesawat terbang yang terdaftar di Indonesia.selain itu buat resiko negara. dianggap lebih tinggi sehingga premi asuransi lebih mahal,menurut Direktur Oprasional salah satu mascapai yang ada di indonesia.

Hal tersebut di karenakan Standar keselamatan penerbangan Indonesia tidak pernah mengalami perbaikan sejak 2007. Saat itu, International Civil Aviation Organization (ICAO) atau organisasi penerbangan sipil dunia mengeluarkan hasil audit terhadap standar keselamatan penerbangan Indonesia.

“Yang terjadi masuk katagori dua, itu sejak april 2007 sampai saat ini. Kemudian diikuti Indonesia dimasukkan blacklist oleh Uni Eropa sejak 2007. Kemudian minggu terakhir, dalam penilaian ICAO, pencapaian Indonesia baru sekitar 45% dibandingkan standar rata-rata negara. Idealnya di atas 60%,”

Seperti diketahui, audit keselamatan penerbangan yang dikeluarkan oleh ICAO dan Universal Safety Oversight Audit Program (USOAP) menunjukkan kondisi standar keselamatan penerbangan Indonesia dibandingkan negara-negara dunia termasuk negara Asia tenggara (ASEAN), tergolong rendah.

Dari 10 negara di ASEAN, level keselamatan penerbangan Indonesia berada di posisi terakhir. Poin yang dinilai dalam audit ini mulai dari kondisi regulator, lisensi, operasional, kebandarudaraan, navigasi udara, penanganan kecelakaan, hingga kelengkapan penerbangan.

Hal sama dikeluarkan oleh otoritas penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA). FAA yang menjadi acuan industri penerbangan global, pada 16 April 2007 telah menurunkan peringkat Indonesia ke kategori 2 atau a Failure karena regulator Indonesia tidak memenuhi standar pengawasan keselamatan penerbangan yang ditetapkan ICAO, badan khusus PBB yang menangani permasalahan penerbangan sipil antar Negara,atau di bawah standar untuk kategori International Aviation Safety Assessment (IASA) kepada Indonesia.

Kementerian Perhubungan khawatir maskapai dengan biaya murah (low cost carrier/LCC) tidak akan memiliki ruang finansial yang cukup untuk menaikkan standar keamanan.

“Dengan demikian kita harapkan tahun ini juga Indonesia masuk dalam kategori 1, sehingga maskapai penerbangan nasional bisa terbang ke Eropa dan Amerika Serikat.

Sesuai aturan FAA International Aviation Safety Assessment, negara yang masih berada di kategori 2 sebenarnya maskapainya tetap dapat melayani penerbangan ke Amerika Serikat tetapi dengan pengawasan tinggi dari FAA.

Selain itu maskapai penerbangan dari negara kategori 2 tidak diizinkan menambah maupun mengubah rute penerbangan mereka antar kota di Amerika Serikat. FAA membuat ulasan atas peringkat keselamatan penerbangan dari berbagai negara secara berkala, dengan terus mengaudit hal-hal terkait standar keselamatan penerbangan yang berlaku di masing-masing Negara.

Bawa untuk dapat masuk kategori 1, membutuhkan kerja keras dari semua pihak tidak hanya Kementerian Perhubungan semata. Sebab pemangku kepentingan di industri penerbangan sangat banyak yaitu Kementerian Perhubungan selaku regulator, maskapai penerbangan sebagai operator, Perum Navigasi Penerbangan (AirNav) serta PT Angkasa Pura I dan II selaku pengelola bandara.

Untuk itulah pasca kecelakaan AirAsia QZ8501, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menginstruksikan manajemen Angkasa Pura I dan AirNav memutasi pegawainya yang terbukti terlibat dalam pemberian izin terbang AirAsia rute Surabaya-Singapura pada hari Minggu tidak sesuai dengan izin yang diberikan pemerintah.

1314 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

FacebookTwitter