Main menu

Hal Yang Perlu Diketahui Saat Terbang di Musim Hujan

Akhir-akhir ini di daearah Indonesia,kususnya di daerah Jawa,Sumatra,Sulawesi dan daerah lainya sering terjaadi hujan yang dan tak kunjung reda,dan apa lagi Indonesia adalah Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, bepergian melalui jalur udara adalah sebuah cara yang cepat dan tepat. Namun, sampai pertengahan tahun seperti ini dimana hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami puncak musim hujan, bepergian menggunakan transportasi udara mempunyai tantangan tersendiri, terutama mereka yang takut terbang.
Menurut data yang ada, pesawat terbang adalah alat transportasi teraman dibanding yang lain. Sehingga meski dalam kondisi hujan sekalipun pesawat tetap aman untuk terbang. Produsen pesawat terbang tentunya memproduksi pesawat yang bisa beroperasi dalam kondisi hujan bahkan salju. Ditambah lagi maskapai dan otoritas penerbangan Indonesia sudah mempunyai prosedur khusus dalam menghadapi situasi ini, sehingga ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi. Jika ada salah satu kriteria tersebut yang belum terpenuhi, maka pesawat tidak diijinkan untuk terbang.
Berikut merupakan hal yang perlu diketahui ketika bepergian dengan pesawat terbang saat kondisi hujan:
Penerbangan Tertunda
Banyak faktor yang menyebabkan penundaan penerbangan saat hujan, namun penundaan dilakukan demi keselamatan penumpang. Banyak faktor yang bisa menyebabkan penundaan penerbangan seperti pergerakan staf darat yang memang terbatas dan lebih berhati-hati saat hujan misalnya menggerakkan tangga/garbarata, menaikkan/menurunkan bagasi dan catering yang membutuhkan waktu lebih lama saat hujan turun, pesawat harus zig-zag menghindari awan mendung saat hendak mendarat/mengudara, posisi pesawat yang parkir berjauhan dengan gedung terminal yang proses boarding/de-boarding lebih lama.
Guncangan dalam penerbangan
Saat melewati awan hujan, terutama saat sedang mengudara atau hendak mendarat, pesawat mengalami guncangan alias turbulence. Pilot sudah mengantisipasi hal ini karena di pesawat sudah ada teknologi radar cuaca yang dapat mendeteksi awan radius sekian kilometer didepan pesawat. Biasanya pilot sudah lebih dahulu memberitahu penumpang dengan mengaktifkan lamu tanda kenakan sabuk pengaman sebelum melewati awan-awan tersebut. Jika sudah begini, pasang sabuk pengaman dan tetap tenang, pilot sudah terlatih dan tahu mana awan yang bisa dilewati dan mana awan yang tidak bisa dilewati. Para awak kabin juga terlatih untuk menenangkan penumpang bahkan dalam menghadapi situasi yang buruk sekalipun.

Petir dan hujan badai?
Tidak perlu khawatir, pesawat terbang memang sudah didesain sedemikian rupa sehingga tahan terhadap kondisi tersebut. Para ahli menyebutkan, walaupun jarang terjadi petir yang menyambar pesawat tidak akan membakar pesawat. Pesawat dibuat untuk bisa menyerap lebih dari delapan kali energi sambaran petir. Sayap dan kabin pesawat juga dapat menahan tekanan yang besar. Selain itu, sistem avionik yang canggih di pesawat memungkinkan untuk pesawat bisa melakukan manuver dan mampu melakukan pendaratan pada kondisi yang ekstrim sekalipun. Kalau pun memang ada kriteria-kriteria tertentu yang tidak terpenuhi, maka pilot akan memilih untuk segera mendarat di bandara awal (Return to Base/RTB), atau bandara alternatif (divert). Hal ini dilakukan sebagai tindakan pencegahan dan bukan sebagai tanda bahaya.

Saat mendarat
Banyak penumpang pesawat yang bilang kalau pendaratan yang tergolong “kasar” dipengaruhi oleh kondisi hujan atau karena pilot yang belum terlatih. Tentu saja anggapan ini tidak benar. Melakukan pendaratan disaat hujan memang mempunyai tantangan tersendiri bagi para pilot, tetapi pilot sangat terbantu oleh canggihnya teknologi yang ada dipesawat. Pendaratan saat hujan (atau saat kondisi normal) memang seharusnya tidak terlalu mulus atau istilahnya firm landing, hal ini dilakukan agar pesawat mendarat tepat pada areanya (Touch Down Zone) dan sensor-sensor yang ada di roda pendarat seperti sensor spoiler, sensor auto brake dan sensor lainnya aktif saat mendarat. Mendarat dengan mulus tetapi tidak pada areanya lebih berbahaya karena sensor-sensor yang ada bisa saja tidak aktif dan pesawat bisa “terlambat” mengerem.

Apa yang sebaiknya dilakukan?
Sebenarnya tidak ada perbedaan berarti saat terbang pada kondisi hujan dan pada kondisi normal. Saat cruising, jika memang tidak bisa tidur, sibukkan diri dengan membaca buku atau mendengar musik. Tentunya harus menuruti arahan dari awak kabin. Jangan gunakan peralatan elektronik saat lepas landas dan mendarat. Jika pesawat mengalami guncangan/turbulensi dan awak kabin sudah mengumumkan untuk mengenakan sabuk pengaman, segeralah kenakan sabuk pengaman agar hal-hal yang tidak dinginkan bisa dihindari.

1441 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

FacebookTwitter