Main menu

6 Bandara Terbaik Di Indonesia

ngurah rai1. Bandara Ngurah Rai, salah satu bandara dengan wifi tercepat di dunia.
Bandar Udara Internasional Ngurah Rai adalah bandar udara internasional yang terletak di sebelah selatan Bali, Indonesia, tepatnya di daerah Tuban, Kuta, sekitar 13 km dari Denpasar. Kode IATA-nya adalah DPS, sedangkan Kode ICAO-nya WADD (dahulu WRRR). Bandara Ngurah Rai merupakan bandara tersibuk ketiga di Indonesia, setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Internasional Juanda. Nama bandara ini diambil dari nama I Gusti Ngurah Rai, seorang pahlawan Indonesia dari Bali.
Bandar Udara Ngurah Rai dibangun tahun 1930 oleh Departement Voor Verkeer en Waterstaats (semacam Departemen Pekerjaan Umum).  Landas pacu berupa airstrip sepanjang 700 M dari rumput di tengah ladang dan pekuburan di desa Tuban. Karena lokasinya berada di Desa Tuban, masyarakat sekitar menamakan airstrip ini sebagai Pelabuhan udara Tuban.[1] Tahun 1935 sudah dilengkapi dengan peralatan telegraph dan  KNILM (Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaar Maatschappij) atau Royal Netherlands Indies Airways mendarat secara rutin di South Bali, yang merupakan nama lain dari Pelabuhan Udara Tuban.
Dan sekarang Bandara Ngurah Rai Bali,Selain meraih predikat sebagai bandara terbaik ke-7 di dunia dengan jumlah pengunjung rata-rata 15 hingga 25 juta per tahun, bandara Ngurah Rai Bali juga menyabet sebagai bandara yang memiliki akses wifi tercepat ke-6 di dunia setelah mengalahkan salah satu bandara IAH di Amerika Serikat. Kecepatan unduhan mencapai 16.01 Mbps, membuat pengunjung yang rata-rata pengguna internet aktif, bisa sedikit lebih bersabar menunggu delay.
Dari bagian atas, bandara ini lebih mirip seperti sirkuit balap dengan jalan berkelok-kelok. Bandara yang masuk dalam 10 bandara terbaik di dunia ini memiliki gapura-gapura dengan relief Bali yang menjadi ciri khasnya.
2. Bandara Sepinggan, bandara paling megah di Indonesia

spinggan
Pembangunan bandar udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman telah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda sebelum waktu kemerdekaan Indonesia. Itu digunakan terutama untuk kegiatan perusahaan minyak Belanda di daerah Balikpapan. Bandara ini menjadi bandara publik dan komersial setelah pengelolaannya diserahkan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Republik Indonesia pada tahun 1960. Bandar udara ini akhirnya dikelola oleh Perum Angkasa Pura I (sekarang PT Angkasa Pura I) sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.1 pada tanggal 9 Januari 1987.
Bandar udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman telah direnovasi dua kali selama 1991 sampai 1997. Fase pertama dimulai pada tahun 1991 dan berakhir pada tahun 1994, untuk merenovasi taxy way, terminal penumpang dan kargo dan juga memperpanjang landasan pacu. Pada tahun 1995, pemerintah Indonesia mengumumkan bandar udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman sebagai bandara kelima Indonesia embarkasi haji untuk kalimantan (Borneo) wilayah yang juga terdiri dari provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Fase kedua renovasi terjadi pada tahun 1996 untuk merenovasi hanggar, depot bahan bakar, dan gedung administrasi. Fase kedua selesai dan bandara akhirnya mulai era baru operasionalnya dengan bangunan baru dan fasilitas pada tahun 1997.
Untuk saatini Bandara Sepinggan, bandara paling megah di Indonesia mengalahkan Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Sepinggan Balikpapan menjadi bandara termegah di Indonesia. Memiliki sistem keamanan canggih pada penanganan bagasi, desain bandara berwarna putih modern bertema futuristic eco-airport yang ramah lingkungan, serta berdinding kaca transparan yang mengelilingi bandara membuat pengunjung dengan leluas memandang ke luar tanpa merasa terpenjara. Di bagian tengah terminal, terdapat sebuah taman yang berdekatan dengan area pengambilan bagasi. Bagi pengunjung yang jenuh menunggu pesawat, bisa mengunjungi boutique mall yang  terintegrasi di sini. Bandara ini memiliki gedung parkir sebanyak 4 lantai yang mampu menampung 2300 unit kendaraan.

masterplan2

3. Bandara Ahmad Yani, bandara di atas air pertama di Indonesia
Pada awalnya Bandara Achmad Yani adalah pangkalan udara TNI Angkatan Darat, dahulu lebih dikenal dengan Pangkalan Udara Angkatan darat Kalibanteng. Berdasarkan Surat keputusan bersama Panglima Angkatan Udara, Menteri perhubungan dan Menteri Angkatan darat tanggal 31 Agustus 1966, maka Pangkalan Udara AD diubah statusnya menjadi Pangkalan Udara Bersama Kalibanteng Semarang. Namun karena peningkatan frekuensi penerbangan sipil, maka pada tahun 1 Oktober 1995, Bandar Udara Achmad Yani Semarang menjadi salah satu Bandar Udara dibawah PT Angkasa Pura. Bandara Achmad Yani berubah menjadi bandara internasional pada tahun 2004 setelah Garuda Indonesia membuka rute Semarang-Singapura.
Dengan ditandatanganinya Kerjasama Pemanfaatan (KSP) pada 17 Juni 2015 antara oleh President Director Angkasa Pura Airports, Terminal Bandara Ahmad Yani resmi dilakukan pengembangan bandara dengan mengusung tema floating airport yang ramah lingkungan. Pengusungan tema baru ini membuat bandara ini menjadi bandara pertama di Indonesia yang dibangun di atas air. PT Angkasa Pura I (Persero) resmi memulai pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani dengan dilakukannya kegiatan groundbreaking pembangunan bandara kebanggaan masyarakat Jawa Tengah ini di Semarang, Jawa Tengah, hari ini (17/6). Sebelum dilakukan groundbreaking, dilaksanakan penandatanganan Kerjasama Pemanfaatan (KSP) oleh President Director Angkasa Pura Airports Tommy Soetomo dan Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Sunindyo, dan disaksikan oleh Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Budiman, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
“Dalam momentum 50 tahun usia Angkasa Pura Airports tahun ini, kami melakukan groundbreaking pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani. Pengembangan bandara bertujuan untuk semakin meningkatkan layanan kepada para penumpang. Pada 2013 terakumulasi trafik penumpang di Bandara Ahmad Yani mencapai 3,2 juta orang. Saat ini, terminal penumpang Bandara Ahmad Yani hanya memiliki luas sekitar 6.700 m2. Dengan pengembangan ini, luas terminal penumpang akan menjadi 58.652 m2 yang mampu menampung 6 hingga 7 juta penumpang per tahun,” ujar Tommy Soetomo.
“Dengan pelaksanaan pengembangan bandara, permasalahan lack of capacity akan mampu teratasi. Selain itu, melalui pengembangan bandara ini akan memacu perkembangan perekonomian, aktivitas bisnis, dan pariwisata di Jawa Tengah bagian utara dan sekitarnya,” kata Tommy. Dalam pelaksanaannya, imbuh Tommy, Bandara Ahmad Yani Semarang dibangun di atas tanah milik negara – dalam hal ini TNI AD – yang dikerjasamakan kepada Angkasa Pura Airports.
Bangunan terminal Bandara Internasional Ahmad Yani ini mengusung konsep unik, yaitu sebagai floating airport atau bandara yang berada di atas air pertama di Indonesia. Bandara ini juga mengusung konsep eco-airport yang ramah lingkungan. “Angkasa Pura Airports akan mendaftarkan bandara ini di Green Building Council Indonesia (GBCI),” kata Tommy.
Selain kapasitas yang semakin meningkat, beberapa fasilitas juga dihadirkan, diantaranya 30 konter check-in, 3 unit aviobridge, 4 konter visa on arrival (VoA), 5 unit elevator, 1 unit travelator, serta 7 unit eskalator. Selain itu, bandara ini akan dilengkapi dengan area parkir seluas 43.634 m dan baggage make-up yang menggunakan sistem Baggage Handling System (BHS) dari yang sebelumnya masih manual.
Pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pengembangan bandara-bandara yang telah dilakukan oleh Angkasa Pura Airports, setelah sebelumnya berhasil menyelesaikan pengembangan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Terminal 2 (T2) Bandara Internasional Juanda Surabaya, serta Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan.
4. Bandara Soekarno Hatta, bandara tersibuk di Indonesia

20120102090158163
Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta (IATA: CGK, ICAO: WIII) merupakan sebuah bandar udara utama yang melayani penerbangan untuk Jakarta, Indonesia. Bandar udara ini diberi nama sesuai dengan nama dwitunggal tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, yang sekaligus merupakan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pertama. Bandara Soetta memiliki kode IATA CGK. Nama populer dalam masyarakat adalah Bandara Cengkareng oleh karena berdekatan dengan wilayah Cengkareng, Jakarta Barat, meskipun secara geografis berada di kecamatan Benda, Kota Tangerang.
Bandara ini mulai beroperasi pada tahun 1985, menggantikan Bandar Udara Kemayoran (penerbangan domestik) di Jakarta Pusat, dan Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur. Bandar Udara Kemayoran telah ditutup, sementara Bandar Udara Halim Perdanakusuma masih beroperasi, melayani penerbangan charter dan militer. Terminal 2 dibuka pada tahun 1992.
Soekarno-Hatta memiliki luas 18 km², memiliki 2 landasan paralel yang dipisahkan oleh 2 taxiway sepanjang 2,4 km. Terdapat dua bangunan terminal utama: Terminal 1 untuk semua penerbangan domestik kecuali penerbangan yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia dan Terminal 2 melayani semua penerbangan internasional juga domestik oleh Garuda.
Setiap bangunan terminal dibagi menjadi 3 concourse. Terminal 1A, 1B, dan 1C digunakan (kebanyakan) untuk penerbangan domestik oleh maskapai lokal. Terminal 1A melayani penerbangan oleh Lion Air dan Wings Air. Terminal 1B melayani penerbangan oleh Kartika Airlines dan Sriwijaya Air. Sedangkan terminal 1C melayani penerbangan oleh Airfast Indonesia dan Citilink.
Terminal 2D dan 2E digunakan untuk melayani semua penerbangan internasional maskapai asing. Terminal 2D untuk semua maskapai luar yang dilayani oleh PT Jasa Angkasa Semesta, salah satu kru darat bandara. Terminal 2E untuk maskapai internasional yang dilayani oleh Garuda, termasuk semua penerbangan internasional Garuda dan Merpati. Terminal 2F untuk penerbangan domestik Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara Airlines.
Bandara di Ibu Kota ini setiap tahunnya dikunjungi 51,17 juta penumpang. Tidak salah bandara ini menjadi bandara tersibuk di Indonesia.
Bandara ini memiliki 3 terminal untuk  lalu lintas maskapai penerbangan. Terminal 1 digunakan untuk  penerbangan domestik, terminal 2 untuk penerbangan internasional dan domestik, sedangkan terminal 3 digunakan untuk penerbangan dengan maskapai termurah. Tidak ada yang salah dengan pembeda-bedaan ini karena semua penumpang dilayani dengan baik oleh staffnya.
5. Bandara Kualanamu, satu-satunya bandara di Indonesia yang memiliki fasilitas Kereta Api

bandara-soetta-dan-kualanamu-disiapkan-untuk-open-sky-policy
Bandar Udara Internasional Kualanamu (IATA: KNO, ICAO: WIMM) adalah sebuah bandar udara internasional yang melayani kota Medan dan sekitarnya. Bandara ini terletak 39 km dari kota Medan. Bandara ini adalah bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.[1] Lokasi bandara ini merupakan bekas areal perkebunan PT Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa yang terletak di Beringin, Deli Serdang, Sumatera Utara. Pembangunan bandara ini merupakan bagian dari MP3EI, untuk menggantikan Bandar Udara Internasional Polonia yang telah berusia lebih dari 85 tahun. Bandara Kualanamu diharapkan dapat menjadi bandara pangkalan transit internasional untuk kawasan Sumatera dan sekitarnya. Bandara ini mulai beroperasi sejak 25 Juli 2013 meskipun ada fasilitas yang belum sepenuhnya selesai dikerjakan.
Latar belakang pembangunan
Pemindahan bandara ke Kualanamu telah direncanakan sejak tahun 1992. Dalam kunjungan kerja ke Medan oleh Menteri Perhubungan saat itu, Azwar Anas, berkata bahwa demi keselamatan penerbangan, bandara akan dipindah ke luar kota.
Persiapan pembangunan diawali pada 1 Agustus 1997, namun krisis moneter yang dimulai pada tahun yang sama kemudian memaksa rencana pembangunan ditunda. Sejak saat itu kabar mengenai bandara ini jarang terdengar lagi, hingga kecelakaan pesawat Mandala Airlines terjadi pada 5 September 2005. Kecelakaan ini menewaskan Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin dan juga menyebabkan beberapa warga yang tinggal di sekitar wilayah bandara tewas akibat letak bandara yang terlalu dekat dengan permukiman. Hal ini menyebabkan munculnya kembali seruan agar bandara udara di Medan segera dipindahkan ke tempat yang lebih sesuai. Selain itu, kapasitas Polonia yang telah melebihi batasnya juga merupakan salah satu faktor direncanakannya pemindahan bandara.
Untuk sekarang Pelayanan terbaik adalah hak yang perlu diperoleh semua penumpang terlebih dengan fasilitas yang lengkap, ini menjadi poin plus sendiri. Bandara Kualanamu ini membuktikan bisa menjadi bandara ini bisa menjadi bandara dengan fasilitas-fasilitas terbaik. Bandara  yang terletak di Medan ini menjadi satu-satunya bandara yang memiliki akses kereta api di Indonesia.
Fasilitas lainnya yang dimiliki adalah bandara ini memiliki hotel transit yang bisa disewa per jam dengan kualitas terbaik.
6. Bandara Juanda, bandara terbaik ke 10 di dunia

sub_800_slideshow-t2-4-surya-eka-9d2a28dbae78de447fca2a3c663a1080ebe418dft2-3
Bandara Internasional Juanda (kode IATA: SUB, kode ICAO: WARR) adalah bandar udara internasional yang terletak di Kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo, 20 km sebelah selatan kota Surabaya. Bandara Internasional Juanda dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I. Namanya diambil dari Ir. Djuanda Kartawidjaja, Wakil Perdana Menteri (Waperdam) terakhir Indonesia yang telah menyarankan pembangunan bandara ini. Bandara Internasional Juanda adalah bandara tersibuk kedua di Indonesia setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta berdasarkan pergerakan pesawat dan penumpang. Bandara ini melayani rute penerbangan dari dan tujuan Surabaya.
Bandara ini memiliki panjang landasan 3000 meter dengan luas terminal sebesar 51.500 m², atau sekitar dua kali lipat dibanding terminal lama yang hanya 28.088 m². Bandara baru ini juga dilengkapi dengan fasilitas lahan parkir seluas 28.900 m² yang mampu menampung lebih dari 3.000 kendaraan. Bandara ini diperkirakan mampu menampung 13 juta hingga 16 juta penumpang per tahun dan 120.000 ton kargo/tahun.
Rencana untuk membangun satu pangkalan udara baru yang bertaraf internasional sebenarnya sudah digagas sejak berdirinya Biro Penerbangan Angkatan Laut RI pada tahun 1956. Namun demikian, pada akhirnya agenda politik pula yang menjadi faktor penentu realisasi program tersebut. Salah satu agenda politik itu adalah perjuangan pembebasan Irian Barat. Berangkat dari tujuan membantu operasi TNI dalam pembebasan Irian Barat, pemerintah menyetujui pembangunan pangkalan udara baru di sekitar Surabaya. Saat itu terdapat beberapa pilihan lokasi, antara lain: Gresik, Bangil (Pasuruan) dan Sedati (Sidoarjo). Setelah dilakukan survei, akhirnya pilihan jatuh pada Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Tempat ini dipilih karena selain dekat dengan Surabaya, areal tersebut memiliki tanah yang sangat luas dan datar, sehingga sangat memungkinkan untuk dibangun pangkalan udara yang besar dan dapat diperluas lagi di kemudian hari.

Untuk sekarang Bandara international juanda,Menjadi bandara terbaik ke-10 di dunia. Bandara dengan segala fasilitas lengkap seperti tempat belanja, tempat makan, tempat hiburan, serta keramahan para staf menjadi penilaian lebih oleh Airport Serv¬ice Quality (ASQ). Surabaya yang masuk dalam  kota besar di Indonesia, membuat pengguna jasa bandara ini mencapai 15 hingga 25 juta per tahunnya.

3264 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

FacebookTwitter